MEDAN – Penguatan karakter sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila menjadi fondasi utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Kota Medan dari Fraksi Partai Hanura, Eko Afrianta Sitepu, saat menggelar kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan di Kecamatan Medan Tuntungan.
Kegiatan yang dihadiri ratusan masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, dan berbagai elemen warga tersebut mengangkat tema “Penguatan Karakter SDM Indonesia Berlandaskan Pancasila Menuju Indonesia Emas 2045.”
Dalam kesempatan itu, Eko Afrianta Sitepu menegaskan bahwa Pancasila tidak hanya menjadi dasar negara, tetapi juga merupakan pandangan hidup, ideologi bangsa, pemersatu bangsa, sekaligus pedoman dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Menurutnya, cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2045 tidak cukup hanya ditopang oleh pembangunan ekonomi, kemajuan teknologi, dan infrastruktur. Lebih dari itu, diperlukan generasi yang memiliki karakter kuat, integritas tinggi, serta komitmen kebangsaan yang kokoh.
“Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki moral, etika, dan semangat kebangsaan yang kuat. Nilai-nilai Pancasila harus menjadi pegangan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Eko menjelaskan, perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa berbagai peluang sekaligus tantangan bagi generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi, generasi Z dan generasi setelahnya menghadapi ancaman berupa intoleransi, penyebaran hoaks, kejahatan siber, krisis identitas, hingga polarisasi sosial yang berkembang di ruang digital.
Kondisi tersebut, kata dia, menuntut adanya penguatan pendidikan karakter berbasis Pancasila agar generasi muda mampu berpikir kritis, bijak dalam menggunakan teknologi, serta tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
“Di era digital saat ini, nilai-nilai kebangsaan harus terus diperkuat agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang dapat memecah belah persatuan,” katanya.
Dalam pemaparannya, Eko juga menekankan pentingnya pendidikan Pancasila yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, metode pembelajaran harus lebih kontekstual dan aplikatif sehingga nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Pendidikan Pancasila, lanjutnya, dapat dilakukan melalui pendekatan berbasis proyek (project based learning), pemecahan masalah (problem solving), diskusi partisipatif, hingga pendekatan saintifik yang mendorong peserta didik berpikir kritis dan kreatif.
Dengan metode tersebut, generasi muda diharapkan mampu memahami makna setiap sila dalam Pancasila sekaligus mengimplementasikannya dalam kehidupan keluarga, lingkungan sosial, dunia pendidikan, maupun ruang digital.
Menanamkan Nilai-Nilai Pancasila
Dalam kegiatan tersebut dijelaskan bahwa penguatan karakter bangsa harus dimulai dari penanaman nilai-nilai dasar Pancasila, antara lain:
Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan menghormati perbedaan keyakinan dan menolak segala bentuk radikalisme serta intoleransi.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, melalui sikap saling menghargai, menolak kekerasan, serta mencegah perundungan (bullying).
Persatuan Indonesia, dengan menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menjaga keberagaman sebagai kekuatan bangsa.
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, melalui budaya musyawarah, demokrasi, dan semangat gotong royong.
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, dengan meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat kurang mampu serta mendorong kemandirian ekonomi.
Melalui kegiatan Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan ini, masyarakat diajak untuk terus memperkuat komitmen terhadap nilai-nilai kebangsaan di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang semakin dinamis.
Eko Afrianta Sitepu menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia menuju tahun 2045 sangat bergantung pada kualitas manusia Indonesia yang mampu menjaga persatuan, menghargai keberagaman, serta memiliki daya saing global tanpa meninggalkan jati diri bangsa.
“Pancasila harus menjadi fondasi dalam membangun SDM unggul. Dengan karakter yang kuat, integritas yang tinggi, dan semangat gotong royong, kita optimistis mampu mewujudkan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.





















