New Delhi —
Tiga akademisi Indonesia ikut membawa kajian tentang Nusantara ke konferensi internasional Brihattar Bharat yang berakhir hari ini di New Delhi. Mereka adalah Prof. Wasino dari Universitas Negeri Semarang, Dr. Nur Hidayat dari Universitas PGRI Semarang , dan H. Sariat Arifia dari Universitas Al Azhar Indonesia. Ketiganya tampil di tengah ratusan peneliti dari puluhan negara. (16/10/2026)
Forum tiga hari di Vigyan Bhawan itu diselenggarakan oleh Indira Gandhi National Centre for the Arts (IGNCA) untuk menandai seabad Greater India Society, perkumpulan ilmiah yang berdiri di Kalkuta pada 1926. Pesertanya datang dari Amerika, Iran, Jepang, Thailand, Vietnam, Rumania, dan banyak negara lain.
Nusantara menjadi salah satu kawasan yang paling banyak dibahas. Sekitar dua puluh makalah mengangkat topik Indonesia, antara lain Borobudur dalam kurikulum sekolah, relief Siwa Tandawa di Prambanan, Dyah Gitarja dan Majapahit, tekstil Gujarat di Nusantara, kuliner Odisha dan Bali-Jawa-Sumatra, sabung ayam di Bali, hingga pemikiran Tagore dan Ki Hajar Dewantara.
Sariat membawa kajian hukum berbasis epigrafi. Ia memaparkan hasil kunjungan lapangan dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Semenanjung Melayu, Gujarat, dan Delhi. Tiga kasus menjadi sorotan: nisan al-Ma’bari di Tuban, nisan Malik Ibrahim di Gresik yang dibandingkan dengan nisan Umar al-Kazaruni di Cambay, serta epitaf para sultan Samudra Pasai hingga Aceh.
Dari nisan-nisan itu terlihat bahwa istilah kekuasaan seperti raja, laksamana, syahbandar, dan nakhoda bergerak lintas Samudra Hindia antara abad ke-13 dan ke-15. Namun, menurut Sariat, Nusantara tidak sekadar menerima. Masyarakatnya menyerap, mengolah, lalu memberi makna baru pada kosakata hukum dan politik tersebut.
Prof. Wasino melihat konferensi ini sebagai cermin bagi Indonesia. Menurutnya, kajian sejarah di tanah air masih didominasi sejarah politik dan, paling jauh, sejarah ekonomi. Sejarah peradaban yang melintasi batas negara dan bangsa belum banyak digarap. “India dan Indonesia bisa menjadikan sejarah sebagai bagian dari pembentukan identitas bangsa,” katanya.
Ia juga menyoroti gagasan Indic Knowledge System yang dikembangkan India sebagai tandingan model pengetahuan Barat. “Kita belum punya itu. Padahal kita punya Hamzah Fansuri, Ronggowarsito, Ki Hajar Dewantara. Selama ini yang kita kenal hanya Immanuel Kant dan Rousseau. Kita harus membangun narasi dari bangsa kita sendiri,” ujar Wasino.
Dr. Nur Hidayat menilai forum ini membuka cara pandang baru. “Warisan peradaban India yang begitu besar mengajak kita melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Di sini berbagai sudut pandang didiskusikan, dari budaya, ekologi, sampai arkeologi,” ujarnya.
Akademisi India pun melihat peluang dari kehadiran peneliti Indonesia. Dr. Gautam Kumar Jha, yang juga menulis tentang Indonesia, menyebut konferensi ini sebagai kesempatan besar. “Ke depan kita bisa menjalankan proyek bersama tentang unsur-unsur sejarah yang sama. Ini kesempatan luar biasa bagi sarjana dan profesor Indonesia,” katanya.
Semangat itu pula yang mengemuka dalam pidato penutupan Prof. (Dr.) D.C. Choubey dari IGNCA. Ia memberi penghormatan kepada para pengelana masa lalu yang menyeberangi hutan, gunung, dan lautan demi menyebarkan pengetahuan ke seluruh Asia, meski banyak di antara mereka tidak pernah kembali. Kini jalur itu ditempuh kembali oleh para sarjana dari berbagai negara, termasuk Indonesia. “Seminar ini pasti akan membuka banyak jalan baru,” kata Choubey, seraya menyebut sepuluh tema konferensi sebagai dasar langkah bersama ke depan. (Novian)





















