Tiga Akademisi Indonesia Bawa Kajian Nusantara ke Konferensi Brihattar Bharat di New Delhi

REDAKSI MEDAN

- Redaksi

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:08 WIB

5036 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

New Delhi —

Tiga akademisi Indonesia ikut membawa kajian tentang Nusantara ke konferensi internasional Brihattar Bharat yang berakhir hari ini di New Delhi. Mereka adalah Prof. Wasino dari Universitas Negeri Semarang, Dr. Nur Hidayat dari Universitas PGRI Semarang , dan H. Sariat Arifia dari Universitas Al Azhar Indonesia. Ketiganya tampil di tengah ratusan peneliti dari puluhan negara. (16/10/2026)

Forum tiga hari di Vigyan Bhawan itu diselenggarakan oleh Indira Gandhi National Centre for the Arts (IGNCA) untuk menandai seabad Greater India Society, perkumpulan ilmiah yang berdiri di Kalkuta pada 1926. Pesertanya datang dari Amerika, Iran, Jepang, Thailand, Vietnam, Rumania, dan banyak negara lain.

Nusantara menjadi salah satu kawasan yang paling banyak dibahas. Sekitar dua puluh makalah mengangkat topik Indonesia, antara lain Borobudur dalam kurikulum sekolah, relief Siwa Tandawa di Prambanan, Dyah Gitarja dan Majapahit, tekstil Gujarat di Nusantara, kuliner Odisha dan Bali-Jawa-Sumatra, sabung ayam di Bali, hingga pemikiran Tagore dan Ki Hajar Dewantara.

Sariat membawa kajian hukum berbasis epigrafi. Ia memaparkan hasil kunjungan lapangan dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, Semenanjung Melayu, Gujarat, dan Delhi. Tiga kasus menjadi sorotan: nisan al-Ma’bari di Tuban, nisan Malik Ibrahim di Gresik yang dibandingkan dengan nisan Umar al-Kazaruni di Cambay, serta epitaf para sultan Samudra Pasai hingga Aceh.

Dari nisan-nisan itu terlihat bahwa istilah kekuasaan seperti raja, laksamana, syahbandar, dan nakhoda bergerak lintas Samudra Hindia antara abad ke-13 dan ke-15. Namun, menurut Sariat, Nusantara tidak sekadar menerima. Masyarakatnya menyerap, mengolah, lalu memberi makna baru pada kosakata hukum dan politik tersebut.

Prof. Wasino melihat konferensi ini sebagai cermin bagi Indonesia. Menurutnya, kajian sejarah di tanah air masih didominasi sejarah politik dan, paling jauh, sejarah ekonomi. Sejarah peradaban yang melintasi batas negara dan bangsa belum banyak digarap. “India dan Indonesia bisa menjadikan sejarah sebagai bagian dari pembentukan identitas bangsa,” katanya.

Ia juga menyoroti gagasan Indic Knowledge System yang dikembangkan India sebagai tandingan model pengetahuan Barat. “Kita belum punya itu. Padahal kita punya Hamzah Fansuri, Ronggowarsito, Ki Hajar Dewantara. Selama ini yang kita kenal hanya Immanuel Kant dan Rousseau. Kita harus membangun narasi dari bangsa kita sendiri,” ujar Wasino.

Dr. Nur Hidayat menilai forum ini membuka cara pandang baru. “Warisan peradaban India yang begitu besar mengajak kita melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Di sini berbagai sudut pandang didiskusikan, dari budaya, ekologi, sampai arkeologi,” ujarnya.

Akademisi India pun melihat peluang dari kehadiran peneliti Indonesia. Dr. Gautam Kumar Jha, yang juga menulis tentang Indonesia, menyebut konferensi ini sebagai kesempatan besar. “Ke depan kita bisa menjalankan proyek bersama tentang unsur-unsur sejarah yang sama. Ini kesempatan luar biasa bagi sarjana dan profesor Indonesia,” katanya.

Semangat itu pula yang mengemuka dalam pidato penutupan Prof. (Dr.) D.C. Choubey dari IGNCA. Ia memberi penghormatan kepada para pengelana masa lalu yang menyeberangi hutan, gunung, dan lautan demi menyebarkan pengetahuan ke seluruh Asia, meski banyak di antara mereka tidak pernah kembali. Kini jalur itu ditempuh kembali oleh para sarjana dari berbagai negara, termasuk Indonesia. “Seminar ini pasti akan membuka banyak jalan baru,” kata Choubey, seraya menyebut sepuluh tema konferensi sebagai dasar langkah bersama ke depan. (Novian)

Berita Terkait

Indahnya Berbagi di Hari Kelahiran: Abel dan Reza Jamu Makan Serta Santuni Puluhan Anak Yatim Panti Asuhan Al-Marhamah Medan
Satgas TMMD ke-130 Mulai Bangun Fondasi Rumah Tidak Layak Huni Milik Warga Lebak
Kapendam XXII/TB Pimpin Vicon Lomba Karya Jurnalistik TMMD ke-130 TA 2026
Bapas Kelas I Medan Gelar Ibadah Bulanan Bina Rohani Kristen/ Katolik, Tanamkan Nilai Garam dan Terang Dunia
DWP Bapas Kelas I Medan Gandeng Pagadaian Tingkatkan Literasi Keuangan Melalui Edukasi Tabungan Emas
Pagi Menyapa, Kalapas Sibolga Tegaskan Disiplin dan Pemenuhan Hak bagi Warga Binaan Kiriman
Bapas Kelas I Medan Gelar Sidang TPP, Bahas Usulan Integrasi dan Litmas Peradilan Anak
Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah Tinjau Standar Higienis Produksi Tempe dan Dapur Lapas Sibolga

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 18:06 WIB

Indahnya Berbagi di Hari Kelahiran: Abel dan Reza Jamu Makan Serta Santuni Puluhan Anak Yatim Panti Asuhan Al-Marhamah Medan

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:19 WIB

Satgas TMMD ke-130 Mulai Bangun Fondasi Rumah Tidak Layak Huni Milik Warga Lebak

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:08 WIB

Tiga Akademisi Indonesia Bawa Kajian Nusantara ke Konferensi Brihattar Bharat di New Delhi

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:48 WIB

Bapas Kelas I Medan Gelar Ibadah Bulanan Bina Rohani Kristen/ Katolik, Tanamkan Nilai Garam dan Terang Dunia

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:41 WIB

DWP Bapas Kelas I Medan Gandeng Pagadaian Tingkatkan Literasi Keuangan Melalui Edukasi Tabungan Emas

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:42 WIB

Pagi Menyapa, Kalapas Sibolga Tegaskan Disiplin dan Pemenuhan Hak bagi Warga Binaan Kiriman

Kamis, 15 Oktober 2026 - 15:42 WIB

Bapas Kelas I Medan Gelar Sidang TPP, Bahas Usulan Integrasi dan Litmas Peradilan Anak

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:27 WIB

Dinas Kesehatan Tapanuli Tengah Tinjau Standar Higienis Produksi Tempe dan Dapur Lapas Sibolga

Berita Terbaru