Dari Bengkel Desa ke Rantai Pasok Sawit, PTPN IV PalmCo Naikkan Kelas IKM Pandai Besi

REDAKSI MEDAN

- Redaksi

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:37 WIB

5036 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MEDAN

Setelah sukses membina UMKM pandai besi di Riau hingga mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri perkebunan, PTPN IV PalmCo kini mendorong pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) pandai besi di Sumatera Utara agar naik kelas dan memiliki akses pasar yang lebih berkelanjutan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam memperkuat keterhubungan antara industri perkebunan kelapa sawit dengan pelaku usaha lokal. Melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PTPN IV PalmCo membina enam IKM pandai besi di Sumatera Utara dan Riau untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat kelembagaan, serta memenuhi kebutuhan alat operasional perkebunan.

Enam IKM tersebut terdiri atas Koperasi Berkah Pandai Besi di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Koperasi Simpati Maju Bersama di Kabupaten Asahan, Koperasi Produsen Pandai Besi Tanah Jawa Simalungun di Kabupaten Simalungun, dan Koperasi Produsen Melati Jaya Steel di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Sementara di Riau, pembinaan dilakukan terhadap Rumbio Jaya Steel dan Mola Maju Bersama yang berlokasi di Kabupaten Kampar.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan pembinaan IKM pandai besi merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk memastikan keberadaan industri perkebunan mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian daerah.

“Bagi kami, pemberdayaan bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi membangun kapasitas dan menciptakan ekosistem usaha yang memungkinkan masyarakat tumbuh bersama perusahaan. Ketika pandai besi lokal mampu meningkatkan kualitas, memperkuat kelembagaan, dan masuk ke dalam rantai pasok industri, di situlah program pemberdayaan menghasilkan dampak yang nyata dan berkelanjutan,” ujar Jatmiko.

Menurut Jatmiko, keterlibatan IKM lokal dalam memenuhi kebutuhan alat operasional perkebunan juga menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat rantai pasok domestik dan mendorong penggunaan produk dalam negeri.

“Industri perkebunan memiliki rantai nilai yang panjang dan harus mampu membuka ruang sebesar-besarnya bagi pelaku usaha lokal. Kami ingin kebutuhan operasional perusahaan dapat menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah perkebunan. Karena itu, IKM tidak cukup hanya dibantu untuk bertahan, tetapi juga harus didorong naik kelas, memiliki standar, kepastian pasar, dan daya saing,” katanya.

Program tersebut dirancang tidak sebatas memberikan bantuan, melainkan membangun ekosistem usaha yang mampu tumbuh secara berkelanjutan. Para pelaku IKM didorong memperkuat tata kelola, meningkatkan kapasitas produksi, menjaga kualitas produk, serta memenuhi aspek legalitas dan standardisasi yang dibutuhkan untuk masuk ke rantai pasok industri.

Hasil pembinaan mulai menunjukkan dampak ekonomi yang terukur. Di lingkungan PTPN IV Regional II, dua koperasi pandai besi binaan telah mendistribusikan sedikitnya 19.579 unit alat operasional perkebunan dengan estimasi nilai pendapatan lebih dari setengah miliar rupiah.

Koperasi Produsen Melati Jaya Steel di Kabupaten Serdang Bedagai, yang dipimpin Wagiono, telah mendistribusikan 11.453 unit alat kepada unit-unit operasional PTPN IV Regional II dengan estimasi pendapatan sebesar Rp287,32 juta.

Sementara itu, Koperasi Produsen Pandai Besi Tanah Jawa Simalungun yang dipimpin Ihfan Prasetia telah memasok 8.126 unit alat dengan estimasi pendapatan Rp227,11 juta. Produk yang dihasilkan kedua koperasi tersebut mencakup lima jenis peralatan utama yang digunakan dalam kegiatan operasional perkebunan kelapa sawit, yakni egrek, dodos, kapak, gancu, dan tojok.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pelaku usaha lokal mampu memenuhi kebutuhan industri dalam volume besar apabila didukung melalui pendampingan, kepastian pasar, penguatan kelembagaan, dan peningkatan kapasitas produksi.

Dalam prosesnya, PTPN IV PalmCo menjalankan berbagai bentuk pendampingan, mulai dari sosialisasi dan pelatihan teknis, studi banding, penguatan kelembagaan, dukungan sertifikasi, hingga pengembangan akses pemasaran.

Para pelaku IKM juga memperoleh kesempatan mempelajari standar produksi alat pertanian modern melalui kunjungan ke sentra pandai besi yang telah berhasil menjadi pemasok industri perkebunan. Transfer pengetahuan tersebut menjadi bagian penting untuk meningkatkan kualitas, konsistensi, dan kapasitas produksi.

Pada aspek kelembagaan, PTPN IV PalmCo turut memfasilitasi pembentukan koperasi berbadan hukum dan membantu proses pengurusan legalitas usaha. Pendampingan juga diarahkan pada pengembangan sertifikasi produk, termasuk Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dan Standar Nasional Indonesia (SNI), yang saat ini masih berproses.

Dukungan tidak berhenti pada penguatan kelembagaan. PTPN IV PalmCo turut menyalurkan bantuan peralatan produksi untuk mendorong modernisasi proses kerja, sekaligus membuka akses permodalan guna menjaga ketersediaan bahan baku dan keberlanjutan produksi.

Jatmiko menambahkan, transformasi kelompok pandai besi dari bengkel-bengkel kecil menjadi koperasi dan pemasok industri menunjukkan pentingnya kolaborasi jangka panjang antara perusahaan dan masyarakat.

“Yang ingin kita bangun adalah kemandirian. Perusahaan hadir untuk membuka akses, memperkuat kapasitas, dan menciptakan peluang. Namun, tujuan akhirnya adalah agar para pelaku usaha memiliki kelembagaan yang kuat, produk yang berkualitas, pasar yang berkelanjutan, dan kemampuan untuk terus berkembang. Jika usaha lokal tumbuh, lapangan kerja tercipta, ekonomi daerah bergerak, dan rantai pasok perusahaan semakin kuat,” tutur Jatmiko.

Pendekatan tersebut mendorong pelaku usaha yang sebelumnya bekerja secara individual atau dalam kelompok kecil untuk membangun badan usaha yang lebih tertata. Dengan kelembagaan yang lebih kuat dan kualitas produksi yang terus ditingkatkan, koperasi binaan kini memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan perusahaan dalam jumlah yang lebih besar.

Perjalanan pelaku pandai besi binaan PTPN IV PalmCo juga menunjukkan bagaimana kemitraan dapat menjadi penyangga usaha pada masa krisis. Pimpinan CV Mola Maju Basamo, Desrico Apriyus, masih mengingat titik balik usahanya ketika pandemi COVID-19 melanda pada 2020.

“Waktu itu hampir semua orang kesulitan menjual produk. Ekonomi seperti lumpuh. Tapi justru di situ PTPN hadir. Mereka menyerap produk kami, membimbing kami, dan membantu kami, sehingga kami tetap bisa berproduksi di tengah situasi yang sulit,” ujar Desrico.

Kemitraan tersebut kemudian berkembang. Pada tahun berikutnya, PTPN tidak hanya berperan sebagai penyerap hasil produksi atau offtaker, tetapi juga memberikan dukungan permodalan melalui program kemitraan senilai Rp800 juta.

Dukungan modal menjadi salah satu pengungkit pengembangan usaha. Bengkel-bengkel kecil yang sebelumnya tersebar dan memiliki kapasitas terbatas mulai terkonsolidasi. Titik-titik produksi berkembang menjadi sentra usaha, sementara kelompok yang semula berbentuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) mulai bertransformasi menuju badan usaha dengan tata kelola yang lebih kuat.

Melalui program TJSL, PTPN IV PalmCo berupaya memastikan bahwa keberadaan industri perkebunan turut menciptakan nilai tambah bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional. Penguatan IKM pandai besi menjadi salah satu bentuk konkret keterhubungan antara pemberdayaan ekonomi lokal dan kebutuhan rantai pasok perusahaan.

Kemitraan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelaku usaha lokal memiliki peluang untuk tumbuh menjadi bagian dari ekosistem industri nasional ketika memperoleh pendampingan, kepastian pasar, peningkatan kapasitas, akses permodalan, serta penguatan kelembagaan secara berkelanjutan.

Dari bengkel-bengkel sederhana di Sumatera Utara dan Riau, alat-alat perkebunan buatan tangan pelaku usaha lokal kini digunakan untuk mendukung aktivitas operasional industri sawit. Transformasi itu menjadi bukti bahwa program pemberdayaan yang terintegrasi dapat membuka pasar, menjaga keberlangsungan usaha, menciptakan nilai ekonomi, dan membawa IKM lokal naik kelas.(AAVID/rel)

Berita Terkait

Ratusan Media Siber Sumut Siap Bergabung di SMSI
IKADIN Bela Imunitas Advokat dalam Menjalankan Tugas Profesi
Denny Kailimang Membela Karyawan: Mereka Hanya Ingin Kembali Bekerja
Wali Kota Medan Apresiasi HUT ke-48 GM FKPPI, Lepas Ribuan Peserta Funwalk di Lapangan Merdeka
Peringati HUT ke-81 TNI,Kodim 0203/Lkt Gelar Baksos Kesehatan Gratis,Ratusan Warga Hadir
Lapas Sibolga Turun Bersama Masyarakat, Bersihkan Sungai dan Benahi Jalan Rusak
Pasukan Gegana Brimob, Polres,Polsek TNI dan BNN Diterjunkan, Rutan I Medan Gelar Razia Gabungan dan Tes Urine Massal
Relawan Prabowo Gibran Desak Presiden Turun Tangan Bantu Puluhan KK WNI Eks Timor Timur yang Terancam Digusur Kodam Jaya Di Karet Tengsin

Berita Terkait

Selasa, 22 September 2026 - 23:04 WIB

Ratusan Media Siber Sumut Siap Bergabung di SMSI

Selasa, 22 September 2026 - 21:02 WIB

IKADIN Bela Imunitas Advokat dalam Menjalankan Tugas Profesi

Senin, 21 September 2026 - 10:54 WIB

Denny Kailimang Membela Karyawan: Mereka Hanya Ingin Kembali Bekerja

Minggu, 20 September 2026 - 17:20 WIB

Wali Kota Medan Apresiasi HUT ke-48 GM FKPPI, Lepas Ribuan Peserta Funwalk di Lapangan Merdeka

Sabtu, 19 September 2026 - 17:34 WIB

Lapas Sibolga Turun Bersama Masyarakat, Bersihkan Sungai dan Benahi Jalan Rusak

Jumat, 18 September 2026 - 18:37 WIB

Pasukan Gegana Brimob, Polres,Polsek TNI dan BNN Diterjunkan, Rutan I Medan Gelar Razia Gabungan dan Tes Urine Massal

Jumat, 18 September 2026 - 15:06 WIB

Relawan Prabowo Gibran Desak Presiden Turun Tangan Bantu Puluhan KK WNI Eks Timor Timur yang Terancam Digusur Kodam Jaya Di Karet Tengsin

Jumat, 18 September 2026 - 13:21 WIB

Perkuat Keamanan, Lapas Sibolga Gandeng APH Laksanakan Razia Gabungan Kamar Hunian

Berita Terbaru

MEDAN

Ratusan Media Siber Sumut Siap Bergabung di SMSI

Selasa, 22 Sep 2026 - 23:04 WIB